Autodesk & Lumion 5.0 versus coretan diatas tanah

"Dulu yang merancang rumah ini namanya pak Dauh, dia yang merancang sekaligus yang mebangun" begitu nenek saya memberikan keterangan tentang rumah tua keluarga besar kami di Karangasem, Bali.

"Di tahun 60-an, dulu desainnya dibuat diatas tanah" sambung nenek saya .

Dengan tongkat kecil pak dauh menggoreskan desainnya diatas tanah, dan setelah kakek saya setuju, maka design siap dikerjakan.

Jangan harap ada tampak, apalagi detail detail dan visual 3d,... hanya denah, ....bagaimana tampilan bangunannya ?...benar benar diserahkan kepada pak Dauh tadi.

Bayangkan, hanya bermodal sket denah diatas tanah, -which is akan lenyap esok hari karena terinjak injak, - kakek saya mempercayakan hasil terbaik untuk rumah yang akan dia tempati selama 50 tahun, ( NB: di tahun 2013 sudah direnovasi total dengan desain dari paman dan saya.)

Kepercayaan kakek saya kepada kemampuan pak Dauh, menyamai kepercayaan pramugari pada pilot saat terbang diangkasa, menyamai kepercayaan pasien pada dokter bedah diatas meja operasi, atau menyamai kepercayaan para bek Chelsea pada kemampuan Jose Mourinho...ehm, dalam strategy parkir bus.

In Dauh we thrust, begitu kira kira slogannya.

Masalahnya, ada 2 jenis kepercayaan didunia ini, 1. kepercayaan yang ada setelah anda melihat buktinya, dan yang ke 2. adalah kepercayaan karena anda 'ingin' percaya

Kakek saya memilih opsi yang kedua, dia berjudi dengan pilihan dan hasilnya benar benar buruk.

Ini bukan salah pak Dauh sepenuhnya, dia mungkin sudah mengusahakan yang terbaik, tapi masalahnya kakek saya tidak bisa membuat koreksi, karena tidak ada gambar yang disepakati, gambarnya ada dibenak pak dauh, bagaikan seorang pecatur dalam catur buta dia mengatur segala sesuatunya, tanpa bisa dibantah, tanpa bisa dikoreksi...

"Tapi pak Dauh adalah yang terbaik di jamannya" demikian nenek saya memberi pembelaan. Saya menutup argumen saya, saya merasa tidak perlu memojokan pak dauh lebih lanjut, mungkin metodenya adalah sebuah standar yang wajar di zaman itu, itu tidak penting sekarang,..we learn more from mistake we've made ..kira kira begitu kata bijaknya.

Pembaca yang budiman, di tahun 2000-an, dunia arsitektur indonesia dikejutkan dan di revolusi dengan hadirnya software sofware 3dimensi. Salah satu yang terkenal adalah 3ds Max, selanjutnya Sketch up dan Lumion,

Lumion sendiri mulai populer di ruang studio kami tahun 2010 an, saat itu Satya Grahadi, kepala arsitek kami yang memperkenalkan,...fungsi Lumion lebih menyerupai simulasi bangunan, jika anda pernah main game the sims atau counter strike anda pasti paham yang saya maksudkan.

Dengan Lumion anda bisa "masuk" kedalah rumah tersebut, melihat lihat sekelilingnya, merasakan feeling di dalam ruangnya. anda dapat melihat dan mengukur sendiri effect furniture pada ruang anda,..apakah tempat tidur anda kebesaran, apakah jendelanya cukup lebar, view apa yang anda lihat dari jendela kamar tidur dan seterusnya.

Intinya, anda sudah melihat bangunan rumah anda, bahkan sebelum dia dibangun.

Lumion tidak dibuat untuk menjadikan arsitek lebih superior daripada sang klien, lumion justru dibuat untuk membuat arsitek kembali menjadi "manusia biasa" bisa dibantah, bisa dikoreksi dengan alasan yang jelas . Dengan Lumion, proses desain menjadi proses 'perkawinan yang sempurna' antara arsitek dengan klien, dengan bukti yang bisa dilihat, bisa diukur, dengan sample yang nyata.

Dengan Lumion, proses desain bukan lagi domain dominan superhero semacam pak Dauh.

Dunia sudah berubah, dunia sudah berkembang, dunia arsitektur juga ikut berkembang mengikuti perubahan dan tuntutan zaman, meminimalisasi kesalahan, mempermudah pekerjaan. Kedepan, teknologi BIM ( building information modeling) akan semakin canggih, terakhir saya tercengang cengang melihat kecanggihan software archicad versi 14 yang dapat membuat gambar kerja yang biasanya dibuat dalam waktu seminggu menjadi sejam.

namun sayangnya para pengguna mahir software ini belum banyak , sehingga masih belum kami masukan dalam lini produksi kami, tapi who knows next...

anyway, diluar dari segala hingar bingar kecanggihan teknologi program arsitektural, ada satu hal yang tidak boleh hilang dari jaman ke jaman, yaitu essensi seni itu sendiri. karena tanpa esensi seni, program secanggih apapun tidak akan bisa menciptakan desain yang indah,...esensi seni adalah man behind the gun...esensi seni adalah pilot behind the wheel... .tanpa esensi seni dari sang arsitek, bahkan Lumion versi 5.0 sekalipun masih akan berpeluang kalah....dari sket tangan diatas tanah.

Ida Bagus Gede Sasra Bhanutama, ST
Principal Architect of Emporio Architect